Menguji Kekuatan dan Daya Tahan Teater dari Kota hingga Ceruk Kampung


Rabu, 13-5-2026


Menguji Kekuatan dan Daya Tahan Teater dari Kota hingga Ceruk Kampung

Catatan: Fedli Azis


TEPUK tangan, sorak-sorai kegembiraan, diskusi intim yang riang-gembira usai pertunjukan teater, jadi penanda, bahwa seni ini masih mendapat tempat di 'minda' masyarakat kita. Di setiap kepala dan hati orang-orang yang menjadi saksi kunci peristiwa itu membawa pulang, pesan atau kesan yang ditangkapnya untuk kemudian dilupakan atau diendapkan menjadi sesuatu pula di dalam dirinya. 


Teater masih punya penonton dan orang-orang yang bekerja tanpa pamrih terus bergeliat hingga ke ceruk-ceruk kampung. Mereka bekerja bahu-membahu untuk mewujudkan niat baiknya, karena teater bagi mereka menjadi tontonan alternatif untuk menyuarakan berbagai keresahan disekitarnya. 


Dianaktirikan, ditempatkan di tepi arus besar pemajuan seni, dipunggungi dan dibiarkan 'hidup' dalam kesulitan dan kekurangan fasilitas serta apresiasi sekalipun, teater tetap jalan. Kerap para senimannya, terutama di Riau menyebut dengan slogan, "Hidup nekat mati muda". Seniman tak ambil pusing dengan kondisi dan situasi yang memprihatinkan itu. 


"Kami turun ke kota maupun kabupaten, hingga ke ceruk-ceruk kampung untuk menguji kekuatan teater. Gerakan mandiri ini sudah kami lakukan sejak 2007 hingga saat ini. Terbukti, tontonan alternatif ini sentiasa diminati masyarakat, dari orang tua hingga anak-anak," ungkap Fedli Azis, usai pertunjukan monolog berjudul, "3431" adaptasi cerpen Putu Wijaya berjudul, "Babi".


Pertunjukan monolog itu sendiri hanya sebagai bonus dari Mengarak Teater lewat class akting yang ditujukan untuk generasi muda yang berminat belajar seni peran. Program itu pun sebagai edukasi plus distribusi pengetahuan tentang teater, khususnya monolog. Barangkali, bagi sekolah menengah atas (SMA) sederajat, pelatihan itu diperlukan untuk persiapan menuju FLS3N yang dilaksanakan setiap tahunnya dari level kecamatan hingga tingkat nasional.


"Program ini kami jalankan sendiri tanpa sponsor atau donatur dari manapun pada 8-9 Mei 2026 lalu. Kami mengandalkan apresiasi masyarakat untuk membiayainya. Untuk class acting berbayar, per-anak 150K (25 orang) dan tiket menonton seharga 25K dan 30K untuk 200 orang penonton. Hasilnya cukup lumayan karena seluruh dana operasional bisa terpenuhi, meski tidak menguntungkan secara finansial. Yang penting program ini berjalan terus menerus," ulas Pimpinan Lembaga Teater Selembayung Fedli Azis. 


Seniman sepuh asal Cerenti, Kabupaten Kuansing Syafrizal Syaf menyebut, program Lembaga Teater Selembayung terbilang jitu. Diakuinya, sudah lama pagelaran teater tak digelar di kampungnya. Apalagi sejak dirinya tak kuat lagi untuk berkarya karena faktor usia yang terus menggerusnya. 


Syafrizal Syaf yang pernah belajar seni peran bersama tokoh teater Riau almarhum Idrus Tintin dan Taufik Effendi Aria menyebut, saat Fedli Azis berniat ke Cerenti, semangatnya terbit dan menantikan hari itu. Karena di kampungnya tak ada penginapan atau hotel, ia pun menjamu tamu dari Kota Pekanbaru itu di rumahnya selama tiga hari. 


"Saya support penuh karena class acting dan pertunjukan teater sudah lama tidak ada lagi di kampung ini. Antusias masyarakat tinggi dan kita perlu apresiasi agar kedepan tumbuh aktor-aktor tangguh dari sini," ungkap penulis sekaligus pelukis itu yang diakui rekannya yang juga pelukis Kurtubi.


Kolaborasi Maksimal


Program Mengarak Teater bertajuk "Class Acting dan Pertunjukan Monolog" terlaksana atas kolaborasi Lembaga Teater Selembayung, Studio 16 YSR Kids dan DKC Cerenti. 


"Saya berbangga hati, Bang Fedli dan Micko Celo mengajak kami untuk berkolaborasi. Kami langsung tancap gas dan berhasil mencapai target dengan 25 peserta class akting dan mengabiskan 200 tiket untuk pertunjukan monolog. Hasil ini memudahkan kami untuk bergerak kedepannya," jelas Yussafat Rose Lidya alias Rose, pimpinan Studio 16 YSR Kids. 


Rose berkisah, saat tawaran itu diterimanya, ia membentuk tim kecil. Menyusun strategi dan menggencarkan promosi keberbagai pihak, termasuk sekolah-sekolah dari tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA) sederajat serta masyarakat umum. 


"Saya melakukan promosi kecil-kecilan ke sekolah dengan memperkenalkan program ini. Lalu mempersembahkan pertunjukan monolog yang saya buat sendiri. Ternyata ramai anak-anak yang berminat. Bagi saya, ini luar biasa untuk Cerenti yang jauh dari pusat kota," ulas pengajar Sekolah Dasar Negeri (SDN) 007 Kampung Baru Cerenti yang diamini kawan-kawannya sesama pengurus DKC Cerenti, usai pertunjukan monolog "3431", Sabtu (9/5/2026). 


Rose sendiri, sebelumnya pernah bergabung bersama komunitas teater di kampusnya UIN Suska dan memainkan beberapa karya diberbagai perhelatan. Dia juga membentuk komunitas teater anak yang terbilang langka di Riau. Meski komunitas kecilnya, belum menggelar pementasan teater anak, namun spirit untuk segera mewujudkannya kian membukit akibat dari kehadiran dua seniman asal Pekanbaru itu. 


Selain promosi ke sekolah dan masyarakat di kampungnya, Rose juga mencari berbagai pihak sebagai donatur. Hasilnya juga tak terduga, bahkan ada pihak yang memborong tiket untuk diberikan kepada siapa saja yang mau menonton namun belum bisa membeli tiket sendiri. Tidak hanya itu, ada pula pihak yang membiayai berbagai keperluan produksi acara, termasuk membiayai uang class acting bagi anak kurang mampu. 


Penonton yang terdata, ungkap Rose, juga banyak yang hadir dari kampung-kampung lain. Mereka memang sengaja hadir karena mengenal Fedli Azis dan Micko, juga karena penasaran serta rindu ingin menonton teater. Paling tidak, kata Rose, kerja maksimal mereka berbuah manis. 


"Teater punya kekuatan dan daya tahan untuk memperpanjang usia kerja kreatifnya. Buktinya, di Cerenti kami sudah buktikan," akunya meyakinkan.


Saling Serap Pengetahuan


Karya monolog "3431" dan class acting ditaja selama dua hari, Jumat-Sabtu (8-9) Mei 2026 di Balai Adat Cerenti. Helat yang langka itu tentu saja berarti bagi masing-masing pihak. Mereka saling berbagi pengalaman dan saling menyerap pengetahuan sesuai pemahamannya. 


Bagi Lembaga Teater Selembayung asal Kota Pekanbaru, Cerenti menjadi tempat kedua dalam tahun ini, setelah Kota Dumai, 9-10 April 2026 lalu. Setiap tempat punya keunikannya sendiri. Khusus Cerenti, yang berjarak 200-an Kilometer atau enam (6) jam dari Pekanbaru menggunakan transportasi darat, bagi Fedli sangat membahagiakan.


Seluruh pihak yang berkait dalam peristiwa itu terlihat saling mengisi. Kekurangan di berbagai hal tidak menghalangi kelancaran dan kekhidmatan acara. "Bumi Allah Taala ini adalah panggung. Jadi usah runsingkan soal ketiadaan elemen pemanggungan. Manfaatkan yang ada dan semua akan terasa lengkap serta menyenangkan," ulas Fedli.


Penting diingat, membuka tabir dan rasa percaya diri anak-anak muda yang ikut class acting jauh lebih utama. Anak-anak yang sebelumnya malu-malu, merasa takut dan canggung unjuk diri di depan publik, setelah presentasi karya menganggap semua itu hanya mitos. Mereka percaya, gerogi dan tak berani tampil di depan umum, selama ini karena dirinya tak punya poin. 


"Sekarang kami merasa punya poin setelah diajak mengenal diri sendiri selama dua hari ini. Ternyata semua yang kami takutkan selama ini cuma mitos," aku salah satu peserta class acting Tria Anisa asal MTsM Cerenti yang disepakati kawan-kawannya.


Rose menambahkan, setelah anak-anak ikut agenda ini, akan terus diajak untuk latihan bersama. Pihaknya juga akan mengajak banyak lagi pihak yang peduli pada tumbuhkembang teater di kalangan anak muda. "Kami upayakan, dalam tahun ini menaja lomba monolog yang pesertanya mereka semua. Semoga niat baik ini wujud menjadi kenyataan," kata Rose meyakinkan dirinya. 


Anak-anak muda Cerenti telah membuktikan, bahwa materi dan pelajaran yang mereka dapat, serta pengalaman selama dua hari itu sangat membekas. Anak Cerenti yang jauh dari pusat kota tak lagi canggung dan berani bersaing sebab mereka mengakui, ternyata dirinya dan anak lain di tempat lain, setara dan punya peluang untuk maju. 


"Ini memang belum seberapa tapi kami jadi tahu bagaimana cara menghargai diri sendiri, orang terdekat dan lingkungan kami. Tak ada yang perlu dikhawatirkan karena semua manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menariknya, kami justru didorong untuk menjadikan kekurangan jadi kelebihan seperti kisah-kisah hidup tokoh dunia, salah satunya kisah Mr Bean," kata Caca, pemenang FLS3N cabang monolog mewakili kabupaten Kuansing ketingkat provinsi Riau. (***)

Penulis Riau Raya
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT