Portal Berita Online


Dunia sudah terbalik. Dulu, orang ingin tahu rahasia tetangga harus menempelkan kuping ke dinding tripleks. Sambil menahan napas. Repot.
Sekarang? Cukup duduk manis di depan layar komputer. Pencet beberapa tombol. Suara bisikan dari dalam istana pun terdengar sejelas penjual tahu bulat lewat pengeras suara.
Maka jangan heran. Kata "sadap" mendadak jadi konsumsi paling laris hari-hari ini. Mengalahkan populernya gorengan hangat di musim hujan.
Seni menyadap ini rupanya sudah naik kelas. Bukan lagi kelas amatir. Ini kelas jenderal.
Bayangkan. Seorang Kepala Staf Kepresidenan yang baru menjabat 35 hari. Seumur jagung pun belum. Harus rela angkat kaki. Masuk sel. Ini rekor tercepat. Mungkin dalam sejarah republik.
Hebatnya, rekor itu lahir bukan karena salah urus beras. Bukan karena salah urus jalan tol. Melainkan karena punya hobi baru yang luar biasa mahal: keranjingan mendengarkan suara Presiden.
Saya mencoba membayangkan proses kreatif di balik layar LIMS itu. Lawful Interception Management System. Nama sistemnya mentereng. Alat canggih itu dibeli pakai uang pajak kita semua. Harusnya dipakai untuk mengintip isi dompet para koruptor. Atau memburu teroris. Tapi, entah bagaimana ceritanya, malah dipakai untuk mengintip obrolan santai orang nomor satu di republik ini. Apa tak ngeri?
Mungkinkah para tersangka itu iseng? Atau, mereka terlalu visioner.
Mereka ingin tahu. Apakah Presiden kalau malam hari juga suka terbangun? Hanya untuk mencari promosi gratis di aplikasi belanja daring? Atau sekadar memastikan menu sarapan Presiden di istana besok pagi. Rasa ingin tahu yang sangat ilmiah.
Lucunya, setelah puas menguping berbulan-bulan, mereka mendadak panik. Pada bulan Oktober kemarin, tombol delete ditekan habis-habisan. Jejak digital mau dihapus. Bersih-bersih.
Ini mirip betul dengan kelakuan remaja. Panik menghapus riwayat pencarian di peramban internetnya setelah ketahuan ibunya. Bedanya, yang dihapus remaja adalah situs komik terlarang. Yang dihapus para petinggi ini adalah rekaman suara kepala negara. Skalanya saja yang agak berbeda sedikit.
Mahbub Djunaidi dulu pernah menyindir. Kekuasaan itu seperti kursi empuk. Siapa saja yang duduk di sana cenderung lupa berdiri. Bahkan sering kali lupa ingatan.
Hari ini kita mendapat pelajaran baru. Kekuasaan bukan cuma bikin lupa berdiri. Tapi juga bikin ketagihan pasang kuping elektronik.
Kalau di zaman dulu, intelijen bertugas mengamankan negara dari ancaman luar. Sekarang tampaknya ada mazhab baru. Mengamankan informasi tentang apakah Presiden sedang batuk atau sedang tersenyum saat membaca berita.
Media asing ribut. Ibu kota heboh. Sampai ada isu mobilisasi militer segala.
Padahal, kalau dipikir-pikir pakai logika kedai kopi, urusannya sederhana saja. Ini hanyalah masalah sekelompok orang yang terlalu mencintai suara Presidennya. Sampai-sampai ingin mendengarkannya 24 jam sehari. Melebihi kesetiaan seorang penggemar mendengarkan lagu musisi idolanya. Sayangnya, cinta yang terlalu posesif itu berujung di jeruji besi.
Jadi, bagi Anda yang hari ini ikut-ikutan membicarakan kata "sadap", jangan merasa bersalah. Kita ini bukan sedang ride the wave. Kita ini sedang merayakan sebuah komedi situasi tingkat tinggi yang ditulis langsung oleh para elite kita. Sebuah pertunjukan gratis.
Selamat menguping, Pak! [naz]